Pendidikan: Kenapa Harus Sekolah?

Kok, harus sekolah sih? 

Buang-buang duit, mending buka warteg.





Grundelan Pendidikan Anak Negeri
Sebelumnya boleh ya pamer sedikit, ijin pamer. Buku di atas adalah buku karya mandiri dari kelompok mahasiswa di Yogyakarta, dari Sanata Dharma Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Saya kebagian Cover desainnya, jadi ga ikut-ikutan nulis. 
Buku dengan judul "Grundelan Pendidikan Anak Negeri" adalah kumpulan dan realita pendidikan Indonesia saat ini. Dituliskan berdasarkan pengalaman nyata yang dialami para penulis. Buku masih tersedia bila Anda ingin baca bisa hub saya lewat gmail atau lihat kontak di aboutme.




Pendidikan - Terlintas kenapa kita harus sekolah? Dulu, saat masuk TK sampai lanjut ke SMP, mungkin saya pribadi adalah orang yang kurang paham, kenapa saya harus berangkat sekolah. Saya sekolah hanya alih-alih untuk menghidar dari amarah ibunda tercinta.



Sekolah ya lurus-lurus saja senin sampai sabtu berangkat, minggu libur dan seterusnya. Tanpa tahu untuk apa sebenranya saya sekolah? Maklum belum secanggih sekarang –lho apa hubunganya? Baca saja artikelnya.

“SMA adalah masa-masa yang paling indah”. Benar! pendapat orang memang berbeda-beda, yang tidak setuju mungkin dulu waktu SMA jarang masuk, atau malah homeschooling, semoga semuanya setuju.
Alasan masa SMA adalah masa paling indah , 80% dari kita mengatakan karena cinta, yang lainya disama-ratakan karena masa untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dan menggeluti minat masing-masing.

Masa SMA belum punya pacar? Ya semoga sekarang sudah, ya. Mau mengakui atau tidak memang benar kenapa SMA adalah masa-masa paling indah, ya karena awal pegangan tangan dialami di masa ini (khusus tahun 90-an). Model anak SMA sekarang bisa kalian simpulkan sendiri-sendiri.
Supaya tidak melenceng dari topik, kita sudahi mengenang masa-masa indah itu. “catatan” jangan ingat-ingat mantan!

Oke, kita kembali ke topik pendidikan.
 
Setelah masa SMA, ada yang mendaftarkan ke perguruan tinggi dan sisanya kita sama ratakan bekerja, yang nikah juga deh. Setelah masuk ke perguruan tinggi dan lulus maka kita lanjut cari kerja. Sebenarnya cerita tidak sesingkat ini, takut Anda bosan dan malah membuat Anda teringat lagi sama mantan.

Maaf sebelumnya sekali lagi kita kembali ke topik.
 


Topik yang sebenarnya dari artikel ini :

Setelah Anda membaca judul di atas apakah kalian merefleksikan apa yang Anda peroleh saat sekolah dan menempuh pendidikan pada umumnya. Maaf, saya pribadi kurang memaknai pendidikan yang saya peroleh sampai saat ini. Bidang yang saya geluti tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang saya pelajari dulu. Bahkan keahlian saya tidak dipelajari dan didapat saat dibangku sekolah. Kalau Anda membaca artikel ini dan masih kuliah silahkan kalian gali lagi apa yang menjadi panggilan, hasrat dan gairah Anda. Apa justru, sudah Anda temukan gairah profesi yang akan Anda geluti nantinya.

Pernah mendengar istilah “cash is the king” (semoga saja benar penulisannya), atau dalam bahasa Indonesia yang memiliki uang adalah raja. Kebutuhan memang harus terus dicukupi, kita tidak bisa menghindar dari yang namnya uang. Orang jawa memiliki istilah “sing penting dapure ngebul” .

Apa sangkut pautnya pendidikan dengan uang?


Terlihat jelas saat Anda membayarkan uang SPP atau saat daftar ulang di Unversitas Anda. Untuk yang sudah di fase kerja (sudah mendapat penghasilan) silahkan anda hitung berapa pengeluaran untuk pendidikan dan gaji yang kalian peroleh saat ini.

Berapa kali gaji bulanan Anda untuk balik modal orang tua Anda. Saya memang bukan orang cina (maaf, bukan maksud menyinggung ras), tetapi dari segi ekonomi apakah itu sesuai dengan apa yang kita dapatkan sekarang. Saya yakin, orang tua Anda tidak pernah menghitung berapa yang mereka keluarkan untuk semua kebutuhan Anda. Tidak ada salahnya untuk reflesi kita masing-masing.

Meninjau lagi dari perlukah kita sekolah?

Perlu, untuk mendapatkan ijasah lalu melamar kerja!
Ya….ya..ya bisa, mainstream tapi 

Pendapat tersebut memang benar, saya mengakui sekolah itu memang penting. Mendapatkan pengalaman, relasi maupun bersosial, dan wawasan adalah bebarapa contoh konkrit apa yang kita peroleh saat sekolah.
Beberapa hal yang saya sebutkan tersebut, adalah hal-hal di luar dari bidang dan ilmu yang kita pelajari di kelas. Lalu apa fungsi dari berbagai ilmu seperti aljabar, gaya gesek, dll dengan apa yang kita kerjakan sekarang.

Menghindar dari sikap pandangan sebelah mata, saya mencari alasan bahwa ilmu itu memang tidak bisa langsung diterapkan di kehidupan sehari-hari (aplikatif). Ilmu tersebut dapat kita ambil manfaat, bahwa kita mengerti proses dan cara kerja sebuah prinsip.

Sumber kaskus.co.id
sumber gambar Nasional-tempo.co.id

Dari ilustrasi tersebut kita refleksikan lagi, pendidikan di Indonesia memang terus berkembang dan berkembang, berganti dan berganti (maklum mentrinya juga ganti). Ganti mentri ganti kurikulum, takut kalau dianggap magabut = makan gaji buta. Si mentri ini berlomba-lomba mengeluarkan aspirasi mereka dengan merombak dan mengubah kurikulum yang ada, hanya untuk alasan andil alih dalam pendidikan negeri ini.

Efek domino ke berbagai pihak, guru harus belajar dan menyesuaikan lagi, buku harus cetak lagi, siswa harus membeli buku baru, harus uang lagi. Sepertinya pendidikan di negeri ini sangat mahal dan begitu bergengsi, hanya untuk menempuh pendidikan formal dan selembar ijasah.

Coba bandingkan dengan ilustrasi yang pernah saya alami sendiri di sebuah pendidikan nonformal. Berikut ilustrasi cerita yang membuat saya merenungkan lagi pendidikan negeri ini, begini ilustrasinya. :

Suatu saat saya mengunjungi sebuah sanggar di Yogyakarta, tepatnya Sanggar Anak Alam. Waktu itu saya mengantarkan beberapa sayur pertanian organik untuk dikomsumsi dan dititipkan di outlet sanggar tersebut, (“program pemerintah” mengenai percontohan kebun mandiri).

Saya memperhatikan anak-anak yang belajar bersama beberapa mentor, saya sebut mentor karena mereka mendampingi dan bukan guru(sama saja ya?). Karena lokasi ada di pinggir sawah dan dekat dengan irigasi, para siswa sibuk dengan kegiatannya masing-masing, ada yang membuat bendungan ada yang menanam ada yang menggambar dan bermain alat musik. Mereka terlihat senang dan asik dengan dunianya masing-masing.

Saya membayakan jika pendidikan Indonesia semua menggunakan prinsip seperti ini, anak belajar dengan apa yang mereka minati. Mereka belajar dengan apa yang mereka ingin pelajari, sebenarnya ini adalah makana dari belajar yang sebenranya. (menurut saya).

Lain tempat, masih di lokasi tersebut saya memperhatikan seorang mentor memberikan uang kepada seorang anak. Lalu sang mentor itu duduk di outlet tempat saya duduk, tanpa cerita dia cerita dengan ibu penjaga outlet.

M : cah kae itungane elek, neg masalah duit cepet” (anak itu hitung-menghitungnya payah, tetapi kalau tentang menghitung uang pintar)
I : “lha trus tok kon nendi?” (lalu kamu surh kemana?)
M : “tak kek’i modal, g reti sekarep bocahe(saya beri modal, terserah anak itu mau diapakan)
Singkat cerita ibu penjaga outlet dan mentor berbincang-bincang mengenai anak itu. Kurang dari satu jam, anak itu kembali. Dia membawa kantong plastik yang isinya langsung ditunjukan kepada sang mentor.
A : “iki mas! Rencane aku arep nggawe roti”, terus d titipke neng kene. (ini kak, saya berencana untuk membuat roti, lalu dijual di tempat ini.
M : “oh ya, lha terus entek piro le blonjo bahan”.(ya, habis berapa belanjaannya)
A : “gur entek 12ewu mas”, go tuku endhog 3ewu go tuku tepung 4ewu, mentega 3ewu karo minyak 2ewu. ( habis 12ribu kak, untuk beli telur 3ribu, beli tepung 4ribu, beli mentega 3ribu, beli minyak 2ribu)
M : “ya wes ayo digawe”.(ya sudah, ayo segera dibuat)

Dalam cerita di atas, anak tersebut mempunyai kelemahan dalam penjumlahan matematika, namun dengan cara lain sang mentor memberikan pelajaran matematika praktis, yang sifatnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran yang seperti ini sepertinya lebih menarik, lebih dari sekedar konsep. Berikut beberapa pelajaran yang diperoleh sang anak,

1. Anak belajar bagaimana memenejemen uang untuk dibelikan sesuatu,
2. dilain sisi anak ini berkreasi dengan membuat roti.
3. Supernya lagi sang anak belajar usaha.

Coba badingkan dengan kurikulum 2013 yang katanya saling mengaitkan pembelajaran satu dengan yang lain. Lebih praktis yang mana? Lebih mendidik yang mana?

Sekali lalgi tidak memandang dari satu sisi mata saja, tetapi untuk menggambarkan dan mendeskripsikan sebuak kurikulum atau sistem kita perlu membandingkan dengan sisi yang lainya. Lalu dimana letak kesalahan sistem pendidikan di Indonesia ini? Yang ternyata menghasilkan orang-orang yang kurang sreg dengan bidang yang dia geluti.

Masih perlukah sekolah?

Letak kesalahn pendidikan ini hanya melihat sisi bahwa anak harus belajar dan belajar, setelah itu diuji dengan ujian nasional, efeknya anak dihajar dengan kumpulan soal yang tebalnya hampir sama dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bayangkan saja kalau setelah ujian selesai kita kumpulkan buku tersebut lalu di jual tukang loak atau ditimbang, berapa rupiah ya?


Toko buku saja sampai dihias dengan pernak pernik UN, bukunya tebal lumayan kan di kiloin.

 Detik-detik UN, gila ya? dari judul buku saja sudah mengambarkan kalo kita ini memang penggiat sistem SKS. Baru ada ide dan niat pas sudah detik-detik. Kenap judul buku UN tidak bulan-bulan UN, detik-detik Ujian Nasional, terus bacanya kapan? pas UN? saya dulu g sempet beli buku UN seperti ini, mending buat beli rokok sama gorengan. n_n
Parahnya lagi guru menjadikan buku kumpulan siap UN tersebut sebagai patokan belajar siswanya di kelas. Mau bagaimana lagi, guru sekarang masih urus administrasi, urus lain-lain apalagi keluarga. Efeknya ke siswa, mereka stres sebelum ujian. Ada yang pergi ke dukun, ada yang beli jawaban dan ada yang mengatur rencana dan peragaan contek-mencontek. Salahnya pendidikan ini di mana?

Masih perlukah sekolah kalau di sekolah formal seperti ini bentuknya. Belum lagi biaya dan dengan beban harapan orang tua yang begitu mulia.

Bagaimana menurut anda masih pentingkah sekolah?

Ingat lho sekarang zamannya serba teknologi, main telunjuk, gesek-gesek. Hampir sebagian besar dari kita mencari informasi dan pengertian mengenai istilah langsung merujuk pada Google search engine. Simple cepat dan ngirit, tanpa pengawasan, bagaiman nasib si dul-si dul negeri ini selanjutnya.

Komentar juga boleh, di cacat juga boleh, monggo…..

No comments:

Post a Comment

Untuk pemesanan desain dan layout bisa kontak kami langsung,

wa : 085664366629